Showing posts with label Petualangan Misteri Saras. Show all posts
Showing posts with label Petualangan Misteri Saras. Show all posts

Tuesday, November 06, 2007

Cinta Terlarang - Part 4

Cincin ½ Hati

Jumat ke kostku, ya. Ada yang ingin disampaikan oleh Ariel... mengenai Doni.

Baru saja kuterima SMS dari Luna. Segera kubalas...

Kapan kita bisa ketemu Doni?

Tak lama kemudian kudapatkan lagi jawabannya.

Hari Sabtu-nya. Lebih baik hari Jumat kamu tidur di kostku saja, supaya kita punya banyak waktu merencanakan pertemuan dengan Doni.

Ok. Jumat sekitar jam 7 malam aku ke sana.


Sudah tiga hari berlalu sejak peristiwa menghebohkan di rumah Pak Nano. Banyaknya kesibukan di kampus dan pekerjaan menumpuk di kantor telah membuatku hampir saja melupakannya. SMS Luna barusan telah mengingatkanku kembali akan niatku menemui Doni.

Tapi kenapa Luna bilang Ariel ingin menyampaikan sesuatu? Apa ya hubungan antara Ariel dan Doni? Hmmm... sabar, Saras... lusa kamu akan menemukan jawabannya.

* * *


Hari Jumat sekitar jam 6 sore, aku mendatangi kost Luna. Rumah Pak Nano terlihat amat sepi. Penerangan hanya diperoleh dari lampu beranda, sedangkan di dalam rumah gelap gulita. Biasanya Ludi dan penghuni kost lainnya berkumpul di sini sambil nyanyi diiringi gitar. Kemana ya mereka?

Tok... tok... tok...

Kuketuk pintu rumah. Tidak ada jawaban.

Tok... tok... tok...

Kuulangi lagi ketukan. Tetap tidak ada jawaban. Kucoba membuka pintu. Terkunci. Sepertinya Pak Nano dan istrinya keluar rumah. Untung saja Ludi pernah memberitahuku kalau pintu depan dikunci, aku bisa melalui jalan setapak di samping menuju tempat kost.

Aku pun berjalan menyusuri jalan setapak di samping rumah. Jalan itu diterangi lampu dengan cahaya yang sangat redup. Membuatku kesulitan melangkah karena tersandung batu-batu kerikil yang tidak nampak jelas.

Tapi aku langsung bernapas lega, karena tak lama kemudian kulihat cahaya yang lebih terang di ujung jalan. Pastinya cahaya itu datang dari bangunan kost.

Aku baru saja ingin melanjutkan langkah ke depan, ketika tiba-tiba dari ekor mata kiri kutangkap sesosok bayangan. Bayangan itu datang dari arah kebun. Tepatnya dari bayangan dua orang manusia yang sedang duduk di bawah pohon rambutan. Siapa mereka?

Kupicingkan mata, sepertinya aku mengenali salah satunya.

Hei, bukankah itu Luna? Ya, itu pasti Luna! Sedang apa dia di situ?

Di samping Luna duduk seorang lelaki dengan jarak setipis helaian rambut. Mereka nampak akrab sekali. Siapa dia?

Haaaa!!! Jangan-jangaaaaan...?!

Hmmm, awas ya, Luna... diam-diam kamu punya pacar tanpa memberitahuku... Hihihihi... Aku jadi geli sendiri membayangkan Luna yang "anti cowok" akhirnya bisa ditaklukan juga. Pastinya laki-laki ini hebat sekali. Hihihihi...

"DUARRRRR!!!!!", kutepuk bahu Luna sekencang-kencangnya.

"Huaaaaaaaa!!!!", Luna berteriak kaget sampai loncat berdiri. Laki-laki yang duduk di sampingnya tidak kalah kaget. Dia spontan menggeser tempat duduknya dan menoleh ke arahku. Ketika kulihat wajahnya, aku tertawa...

"ARIEL?! Hahahahahahahahaha! Hayooo, lagi apa kalian berdua duduk berdempetan di sini? Asyik pacaran, yaaa?!! Hahahahahaha!!!!", aku tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut. Benar dugaanku, lelaki tersebut adalah Ariel. Mereka berdua nampak malu dan salah tingkah. Muka mereka memerah seperti kepiting rebus, tapi tak satu pun yang sanggup berkata-kata. Pasti mereka kaget bukan kepalang karena kepergok olehku. Hahahahahaha!

"Sssaa... Saras... kukira kamu datang 1 jam lagi?", Luna terlihat seperti anak kecil yang kedapatan ibunya sedang melakukan kenakalan. Hihihi, senang sekali aku melihat ekspresi wajahnya yang amat sangat salah tingkah.

"Aku pulang lebih cepat. Memangnya tidak boleh ya kalau aku mau datang jam 6?"

"Err... err... bukan ituuuu..."

"Atau kalau aku datang jam 7, kalian bisa berhenti pacaran dulu, supaya tidak ketahuan olehku? Hahahahaha!"

"Ehhh... emmm... kami bukan sedang pacaran, kok", Ariel membela diri.

"Aah, sudahlah. Tidak ada yang perlu kalian sembunyikan dariku. Kalau teman sendiri senang, masa aku tidak sih?", aku mencoba menenangkan Ariel yang nampak pucat. Aku kan memang tidak menyalahkan siapa-siapa. Aku malah senang telah berhasil menangkap basah mereka. Hihihihi.

"Errr... gimana kalau kita masuk ke kamarku? Di sini banyak nyamuk", Luna mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Masa sih banyak nyamuk? Tadi kelihatannya kalian betah-betah saja di sini", ujarku yang masih belum puas menggoda mereka.

"Saraaaaaaaaaaaaasssss!!!", sambil melotot ke arahku, Luna menarik tanganku untuk segera meninggalkan tempat itu. Kalau kugoda terus, mungkin dia akan meledak. Haahahaha!

Sesampainya di kamar Luna, aku mengambil posisi duduk berselonjor kaki di atas kasur tanpa tempat tidur yang diletakkan di atas lantai. Luna duduk persis di samping kiriku. Ariel duduk bersila di atas lantai menghadap kami berdua.

"Jadi, ada cerita apa mengenai Doni?", aku membuka pembicaraan.

"Ariel ini sahabat dekat Doni, Ras. Dia tahu persis bagaimana hubungan Doni dan Shinta semasa dia kost di sini", jelas Luna.

Ariel mengangguk-anggukkan kepala sambil melanjutkan penjelasan Luna,"Aku tahu bagaimana perasaan Doni sesungguhnya. Dia sangat mencintai Shinta melebihi cinta dia terhadap diri sendiri atau keluarganya."

"Tapi jatuhnya Shinta ke dalam sumur telah menciptakan banyak opini, Riel. Belum lagi sekarang dia akan menikahi gadis lain. Semua orang, termasuk aku, jadi ragu dengan kesungguhan cinta dan sumpah setianya", kataku panjang lebar.

"Sebenarnya, ini rahasia antara aku dan Doni. Tapi mungkin sebaiknya aku katakan padamu juga. Apalagi Luna memberitahuku bahwa mungkin kamu bisa memecahkan kemelut ini. Walau aku tidak tahu bagaimana caranya?", Ariel menatapku dengan keraguan.

"Rahasia apa yang kamu maksud?", tanyaku semakin penasaran tanpa mempedulikan keraguan Ariel. Bagiku sudah biasa orang meragukanku atau menganggapku aneh.

"Malam sebelum kejadian naas itu, Doni sempat menemui Shinta di kebun tempat kamu menemukan aku dan Luna tadi. Waktu itu Pak Nano dan istrinya sedang pergi kondangan, sehingga Doni dan Shinta bisa bertemu dengan leluasa", Doni mulai membeberkan rahasianya.

"Lalu?"

"Malam itu, Doni melamar Shinta..."

Belum selesai Ariel melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba hawa dingin lewat melalui tengkukku. Tadinya kukira hanya aku yang merasakannya, tapi kulihat Ariel menggigil perlahan dan Luna memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya.

"Brrr... dingin ya? Apa karena mau hujan? Kututup pintu depan dulu ya", Luna beranjak dari duduknya dan melangkah menuju pintu depan. Kudengar dia menutup pintu tersebut, dan ketika kembali, dia juga menutup pintu kamar.

"Lalu gimana, Riel?", pintaku pada Ariel agar melanjutkan ceritanya.

Baru saja Ariel mau membuka mulutnya, tiba-tiba angin berhembus. Tak hanya itu, angin tersebut membuat kekacauan di dalam kamar Luna. Kertas-kertas berterbangan di atas meja. Luna terpekik pelan karena kamarnya jadi berantakan.

Aku dan Ariel saling bertatapan. Ya, kami punya pemikiran yang sama. Pintu kamar baru saja dikunci, lalu kenapa masih ada angin masuk?

Perasaanku mulai tidak enak. Aku paham betul tanda-tanda seperti ini artinya...

"Aduh!", tiba-tiba Luna berteriak. Ruangan yang semula terang-benderang berubah jadi gelap-gulita.

"Lengkap deh penderitaan kita. Mati lampu! Mana aku tidak punya lampu senter atau lilin, nih. Aku cari dulu ya, siapa tahu ada yang punya", kata Luna sambil melangkah keluar kamar.

"Coba aku cek, ini sebenarnya mati listrik dari PLN atau hanya sekedar turun?", kali ini Ariel yang pergi meninggalkanku.

Sekarang tinggal aku sendiri di dalam kamar. Ada perasaan gundah, tapi kegelapan membuatku tidak bisa melakukan banyak hal. Hawa dingin kembali berhembus melalui tengkukku. Pasti hawa dingin tersebut masuk melalui pintu kamar yang telah terbuka lagi.

Bulu kudukku meremang... Duh, tahu begini lebih baik aku ikut Luna atau Ariel saja.

Kuraih tas kerja yang ada di sebelah kananku. Kurogoh-rogoh dalamnya. Aku mencari handphone. Mungkin sedikit penerangan bisa meredakan kegelisahanku.

Ah, ini dia handphoneku. Kunyalakan lampu kamera handphone. Kuarahkan sinarnya ke segala penjuru. Tapi tetap saja suasana mencekam. Sinar tersebut seperti tertelan, tak mampu mengalahkan kegelapan. Kupikir, lebih baik aku keluar daripada bingung sendirian di kamar.

Baru saja aku hendak bangkit dari duduk, tiba-tiba... sebuah suara dingin tanpa wujud mengisi kekosongan...

"Saras..."

Siapakah itu? Perlahan kuarahkan handphone ke sumber suara tadi. Insting terkuatku mengatakan kalau dia adalah...

Arrrrgh!!!

"Shinta...?!"

Mataku terbelalak kaget. Jantungku berdegup kencang. Bagaimana tidak, di hadapanku kini nampak sesosok wanita dengan wajah pucat. Matanya sayu, bibirnya membiru, dan rambutnya basah. Kuperhatikan lagi, seluruh tubuhnya pun basah. Beginikah keadaannya terakhir ketika ditemukan di dalam sumur? Sungguh kasihan...

"Saras, aku tahu kamu akan datang kembali untuk membantuku", ujarnya masih dengan nada datar dan dingin. Kutatap matanya, kini tidak lagi menyorot penuh kebencian padaku. Aku pun jadi tambah iba padanya. Shinta, kau pasti sungguh menderita…

"Shinta, apa maumu? Apa yang bisa kubantu? Terakhir kau hanya bilang soal dendam pada Doni. Kenapa?", bertubi-tubi kulontarkan pertanyaan. Namun wajah itu tetap menunjukkan ekspresi tanpa emosi.

"Ikuti aku...", ujarnya seraya membalikkan badan. Kulihat kakinya tidak menjejakkan tanah. Dia melayang perlahan ke luar kamar. Aku pun mengikutinya.

Dia membawaku ke kebun belakang. Tempat kutemukan Luna dan Ariel bercengkerama tadi sore. Aku baru ingat perkataan Ariel bahwa di tempat ini juga Doni bertemu Shinta pada malam sebelum kejadian. Mengapa Shinta membawaku ke sini? Apa yang hendak Shinta tunjukkan padaku?

"Saras, lihatlah di sana...", Shinta mengarahkan telunjuknya pada sebuah pohon. Di bawahnya terdapat sebuah kursi panjang.

Itulah perkataan terakhir yang dilontarkan sebelum akhirnya dia menghilang. Sebagai gantinya, kurasakan pening luar biasa. Dadaku sesak, napasku tersengal-sengal. Kupegang kepalaku sambil terbungkuk menahan tubuh agar tidak jatuh. Tiba-tiba sebuah kekuatan besar menarikku.

Dengan sekuat tenaga aku melawan kekuatan itu. Tapi tenaga ku kalah jauh, sehingga akhirnya aku tersedot ke dalam suatu pusaran. Aku melayang-layang dan berputar-putar di dalamnya. Kepalaku semakin terasa pening, tanganku menggapai-gapai... berusaha keras melepaskan diri. Tapi aku tak kuasa...

Arrrghhhh!!!! Tolooooongggg...!!!!!

... tak ada yang mendengar teriakanku ...

* * *


Kira-kira sepuluh detik kemudian aku tersadar. Kengerian yang barusan menimpaku hilang. Kutatap sekelilingku, yang nampak kini adalah sebaliknya. Kudapati diriku sedang duduk di atas kursi panjang. Sebuah sinar matahari lembut menyeruak malu-malu di balik dedaunan. Dia hendak pamit meninggalkan hari, karena tugasnya akan digantikan oleh sinar bulan dan bintang-bintang. Yah,sore telah datang.

Sore yang tenang. Angin sepoi-sepoi membelaiku pelan. Kutengadahkan kepala, kulihat burung-burung berterbangan pulang menuju sarangnya. Langit nampak cerah dan satu per satu bintang bermunculan. Indahnya suasana petang ini...

Aku masih termangu menikmati suasana, ketika dari jauh terlihat dua sejoli berjalan bergandengan tangan. Dari sini tak dapat kukenali wajah mereka. Namun semakin dekat semakin jelas wajah sang wanita.

Shinta. Ya, aku tahu persis kalau itu Shinta. Walaupun dia nampak jauh berbeda. Wajahnya diliputi senyum ceria. Matanya memancarkan kebahagiaan dan dipenuhi oleh rasa cinta. Sesekali dia menatap mesra seorang laki-laki yang menggandeng tangannya.

Laki-laki itu... kuingat wajahnya... di dalam sebuah undangan pernikahan. Ah, dia pasti Doni. Doni dan Shinta? Kenapa mereka ada di sini? Bukankah mereka...?

Mereka berjalan melaluiku begitu saja. Tanpa permisi, mereka duduk di kursi panjang, persis di sampingku. Walau agak canggung, aku rasa aku harus tetap menyapa mereka.

"Hai Shinta... Doni...", sapaku dengan perasaan yang amat sangat janggal. Rasanya baru semenit yang lalu aku yakin Doni akan menikahi gadis lain... dan... Shinta sudah meninggal. Lalu kenapa mereka di sini?

Mereka menganggap sapaanku bagai angin lalu. Masih tetap tanpa melihatku, mereka malah...

Hei!!!! Apa yang mereka lakukan?! Tidak sopan! Mereka berciuman di hadapanku!

Secara spontan kutepuk pundak Shinta yang duduk membelakangiku. Tapi tepukanku hanya berlalu bagai menepuk udara kosong. Lho?

Emosiku mulai terpancing. Biar bagaimanapun dimabuk kepayang, seharusnya mereka menghormati orang di sekitar. Ini kok ciuman sembarangan. Apa mereka tidak menganggapku? Dipikir aku ini mahluk halus yang tidak nampak?!

Tidak nampak?

Aku tidak nampak?

"Heiii... kaliaaaan... Haloooo, apa tidak melihatku?", kukibaskan tangan di hadapan wajah keduanya. Tapi mereka tetap tidak bergeming...

Hmmm... akhirnya aku baru sadar... mereka berani berbuat itu karena memang benar-benar tidak melihatku ada di sini. Tapi, kok bisa? Aduh, ada apa denganku? Apa aku telah berubah jadi hantu?

Ketika aku masih diliputi kebingungan, kulihat kedua sejoli dimabuk kepayang itu telah selesai melepas hasrat rindu.

"Shinta, apakah kamu benar-benar mencintaiku?", Doni berkata sambil menatap Shinta mesra.

"Ya. Aku mencintaimu setulus hatiku. Apa pun perbedaan yang kita miliki, aku tidak peduli. Doni, aku tahu hanya kamu yang bisa membahagiakanku. Bawalah aku bersamamu", Shinta ganti menatap Doni sambil membelai keningnya.

"Kamu yakin ingin ikut denganku?"

Shinta mengangguk mantap.

"Walaupun nantinya hidup susah karena harus memulai segalanya dari nol?"

Sekali lagi Shinta mengangguk mantap.

Doni mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya. Sebuah kotak kecil dilapisi kain beludru berwarna merah. Dibukanya kotak tersebut di hadapan Shinta.

Shinta terkejut. Mulutnya menganga lebar dan dia terpekik perlahan. Aku pun tak kalah terkejut.

Doni bergerak turun dari kursi lalu bertekuk lutut. Wajahnya menengadah menatap lembut kekasihnya. Tangan kanannya meraih tangan Shinta, tangan kirinya memperlihatkan sepasang cincin.

"Shinta, maukah kamu menjadi istriku?"

Perlahan kulihat air mata Shinta meleleh turun ke pipi. Dia kehilangan kata, namun masih sanggup menyerap makna. Dianggukkan kepala sebagai tanda diterimanya lamaran Doni. Dengan tangis sesenggukan, diraihnya pundak Doni dan mereka berpelukan bahagia.

Aku terpaku menatap adegan penuh haru tersebut. Aku memang bukan Shinta, tapi sekarang aku bisa merasakan kebahagiannya dan juga menyadari betapa besarnya cinta Doni padanya.

"Bagaimana kita memberitahu orangtua kita? Mereka bisa membunuh kita!", sebaris pertanyaan keluar dari mulut Shinta setelah dia melepaskan pelukan dan menyeka air mata dari pipinya.

"Shinta, aku tahu, sampai kapan pun mereka tidak akan pernah merestui hubungan kita. Oleh karena itu, aku memintamu untuk menjadi istriku... tanpa restu mereka..."

"Maksudmu... kita... kawin lari?"

"Jangan bilang begitu, Shinta. Seolah-olah kita yang bersalah hingga harus lari dari kenyataan. Katakanlah itu sebagai bukti keseriusan cinta kita."

"Hmmm..."

"Apakah kamu masih bersedia menerima tawaranku?"

Tanpa ragu sedikitpun Shinta menganggup mantap.

"Ya, demi cinta kita, kemanapun kamu pergi, aku ikut denganmu."

Mereka berpelukan dan bertangisan kembali. Ah, betapa kuatnya cinta, hingga bisa mengalahkan segalanya...

Doni menyematkan sebuah cincin ke jari manis Shinta. Shinta pun melakukan hal yang sama pada Doni. Kulihat bentuk sepasang cincin itu sebenarnya sangat sederhana. Tanpa berlian atau kilauan kuning emas. Cincin perak dengan lingkaran polos. Namun pada bagian tengahnya terdapat motif yang unik. Motif ½ hati.

"Shinta, kamu lihat kedua cincin ini? Pada bagian tengahnya masing-masing terdapat tonjolan dengan motif ½ hati. Kamu tahu artinya?"

Shinta menggeleng. Doni merekatkan jari manisnya pada jari manis Shinta.

"Kamu lihat sendiri, ketika kita satukan, kedua cincin tersebut akan mempertemukan motif ½ hati tadi menjadi bulatan hati penuh. Sekarang kamu paham?"

Shinta tersenyum. Doni melanjutkan perkataannya...

"Cintaku padamu tidak akan pernah berubah karena ½ hatiku ada pada ½ hatimu. Shinta, sampai maut memisahkan kita, aku akan tetap menyimpan cincin ini sebagai bukti cinta dan kesetiaanku padamu."

"Sungguh?"

"Ya..."

"Sampai maut memisahkan kita?"

"Sampai maut memisahkan kita..."

Bersamaan dengan perkataan Doni tadi, tiba-tiba kurasakan kekuatan besar yang tadi menarikku datang kembali. Tanpa sempat melawan, aku tersedot ke dalam pusaran angin yang membuatku berputar-putar di dalamnya.

Herannya, kali ini aku pasrah. Tidak berontak. Karena aku tahu kemana pusaran ini akan membawaku...

* * *


"Saras... Saras!!!"

Ugh... sebuah sorot lampu menyinari wajahku. Aku menutupi wajahku dengan tangan untuk menghalau sinarnya yang menyilaukan.

Kudapati aku masih terduduk di atas sebuah kursi panjang yang sama. Dan masih di kebun yang sama. Namun suasana yang ada di sekelilingku sungguh amat berbeda. Kali ini malam nampak lebih pekat dan mencekam...

Kemana Doni, kemana Shinta? Bukankah barusan aku melihat mereka? Apa yang terjadi setelah Doni melamar Shinta?

"Saras! Kamu kenapa lagi sih? Aku cari kamu kemana-kemana tidak ada. Eh tak tahunya ada di sini? Kamu lagi apa?"

Luna... dia pasti sangat cemas ketika mengetahuiku aku menghilang dari kamarnya.

"Luna, tenang... aku tidak apa-apa. Aku baru saja dibawa ke masa lalu oleh Shinta."

"Shinta? Masa lalu? Apa sih maksudmu? Sudah, kita pergi dulu dari sini. Ngobrol di kamarku saja..."

"Luna, tunggu... aku... aku harus memastikan... bahwa Doni masih mempunyai cincin ½ hati."

"Duh, apalagi sih cincin ½ hati? Memangnya kenapa kalau dia tidak punya itu?"

"Mungkin... mungkin Shinta akan membunuhnya..."

Sinar lampu senter yang tadi begitu terang-benderang menerangi wajahku dan menyilaukan pandanganku, kini nampak hanya bagai sebuah titik cahaya di tengah kegelapan.

Namun begitu, aku masih dapat melihat wajah Luna yang tidak dapat menyembunyikan kekagetan... dan kengerian...

Pada saat itu juga aku tahu... aku harus bergerak cepat...

* * *


to be continued...

Wednesday, October 31, 2007

Cinta Terlarang - Part 3

Janji Sehidup Semati

Aku mau pulang...

Kucoba bangkit, tapi sekujur tubuhku lemas.

Luna memapahku. Dengan terhuyung-huyung aku mencoba berdiri. Melihatku masih kepayahan, Pak Nano ikut membantu menuntunku berjalan. Sambil setengah berbisik ia memintaku untuk menenangkan diri di ruang tamunya. Tapi selain rasa letih, bayangan lukisan yang menyeramkan di ruang tamu membuatku berkali-kali menggelengkan kepala sambil berkata bahwa aku ingin pulang saja.

"Ada sesuatu yang ingin Bapak ceritakan pada Nak Saras", kalimat itu diucapkan Pak Nano dengan nada suara lebih tegas dan genggaman yang lebih kuat pada lenganku. Aku segera sadar, kali ini permintaanya telah berubah menjadi perintah. Walaupun dibuat sehalus mungkin.

Dengan berat hati aku memenuhi permintaannya. Selain itu, ada rasa penasaran dalam hati. Mungkin saja setelah mendengar cerita Pak Nano, sedikit demi sedikit selubung misteri akan terkuak. Tapi aku tidak mau pergi sendiri. Kuseret tangan Luna untuk mengikutiku. Ludi dan Ariel juga ingin bergabung, tapi Pak Nano memberi tatapan penuh arti, yang membuat mereka mengurungkan niatnya. Akhirnya hanya aku dan Luna yang melangkahkan kaki mengikuti Pak Nano menuju ruang tamu.

"Nak Saras dan Nak Luna, duduklah dulu. Saya ingin memperlihatkan kalian sesuatu", Pak Nano mempersilahkan kami duduk lalu berlalu menuju kamar tidurnya.

Aku dan Luna duduk di atas sofa merah marun yang beberapa jahitan pada kain penutupnya mulai mencuat di sana-sini. Membuatnya semakin terlihat usang. Di hadapanku terpampang lukisan yang tadi siang berhasil membuat jantungku nyaris copot. Kutundukkan kepala. Aku tak ingin melihat wujud orang-orang yang ada di dalamnya. Terutama wujud anak perempuan yang arwahnya baru saja menerorku!

"Saras, diakah yang barusan membuatmu histeris?", tiba-tiba Luna berkata sambil mengarahkan telunjuknya ke arah wajah anak perempuan tersebut.

"Luna... sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku mau tanya, apakah kamu percaya padaku?"

"Saras, aku mengenalmu cukup lama, termasuk mengetahui kelebihanmu. Aku percaya padamu. Lagipula, untuk apa kamu berbohong?"

Aku menghela napas lega. Senang rasanya ada yang mempercayaiku.

"Thanks, Luna. Ya, dialah yang kulihat di sumur tadi. Bahkan siangnya wajahnya dalam lukisan ini berubah jadi menyeramkan! Tadinya aku kira hanya halusinasi, tapi sekarang aku yakin ada yang tidak beres di rumah ini, Lun!"

"Ah, Saras, aku jadi takut. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku pindah?", wajah Luna memucat. Sebenarnya aku tak ingin membuatnya panik begini. Tapi tidak ada yang bisa kututupi lagi.

"Tenang, Luna... sebelum kita membuat keputusan, kita dengar dulu penjelasan Pak Nano."

"Tapi..."

Belum selesai Luna bicara, tiba-tiba Bu Nano muncul dari dapur membawa nampan dan beberapa buah cangkir.

"Nak Saras, coba lah minum teh hangat ini. Mudah-mudahan bisa menenangkan Nak Saras", Bu Nano menyodorkan sebuah cangkir padaku.

"Terima kasih, Bu", aku menerima cangkir tersebut lalu menyeruput teh perlahan-lahan. Aaah, kehangatan teh telah membuat perasaanku lebih tenang.

Tak lama kemudian Pak Nano muncul sambil membawa beberapa album foto. Di atas album tersebut, kulihat ada sebuah undangan pernikahan berwarna kuning keemasan. Undangan siapakah itu? Aku tidak tahu.

Pak Nano duduk di hadapanku. Dia menatapku tajam. Sebaris pertanyaan keluar dari mulutnya.

"Nak Saras, apakah benar tadi Nak Saras melihat Shinta?"

Aku mengangguk. Aku tidak mengharapkan Pak Nano akan percaya dengan penglihatanku.

"Apakah Nak Saras sudah tahu bahwa Shinta sudah meninggal?"

Aku ragu-ragu menjawab pertanyaan itu. Karena jika kujawab, sama artinya dengan memberitahu Pak Nano bahwa kami telah membicarakan keluarganya selama ini.

"Saya sudah cerita pada Saras, Pak", akhirnya Luna yang menjawab.

"Baiklah. Bapak tidak tahu apakah yang dilihat oleh Nak Saras adalah benar-benar arwah Shinta atau hanya halusinasi belaka. Bapak sendiri tidak pernah bertemu Shinta sejak kematiannya. Tapi Bapak bukan hendak memperdebatkan hal itu."

Pak Nano menghentikan kalimatnya. Dia meraih secangkir teh hangat dan menyeruputnya perlahan.

"Nak Saras dan Nak Luna, mungkin sebaiknya Bapak bercerita apa yang telah terjadi pada keluarga kami selama setahun belakangan ini", Pak Nano membuka pembicaraan. Kami hanya diam dan mendengarkan dengan seksama.

Pak Nano membuka sebuah album. Di dalamnya kulihat foto-foto hitam putih yang kutaksir umurnya lebih tua dari umurku. Pinggirannya telah menguning dan gambarnya ada yang tidak jelas.

"Ini adalah foto-foto kami ketika baru menikah dan pindah ke rumah ini. Tanah ini adalah warisan orangtua Bapak. Di atasnya Bapak bangun rumah sederhana dan Bapak tanami pepohonan di bagian belakang agar rumah terasa sejuk", Pak Nano memulai riwayat keluarganya sambil menunjuk beberapa foto. Kulihat Pak Nano yang masih nampak muda dan gagah, begitu pula Bu Nano yang nampak segar dan cantik. Pada setiap foto, keduanya selalu menunjukkan muka ceria sebagai pertanda kehidupan yang bahagia.

"Setahun setelah kami menikah, lahirlah Dimas", Pak Nano menunjuk sebuah foto anak lelaki lucu menggemaskan.

"Lalu menyusul Shinta lima tahun kemudian", kali ini telunjuk Pak Nano mengarah pada foto anak perempuan yang sehat dan montok.

"Kami sekeluarga hidup bahagia walau sederhana, hingga akhirnya Bapak pensiun, pemasukan tidak lagi sebesar ketika Bapak masih bekerja. Untunglah Dimas sudah lulus kuliah dan tak lama kemudian mendapatkan pekerjaan. Sekarang dia telah menikah dan tinggal di daerah Pasar Minggu. Hanya Shinta yang masih kuliah dan menemani Bapak dan Ibu di sini. Akhirnya untuk menambah pemasukan dan membiayai kuliah Shinta, Bapak membangun kost-kostan di tanah belakang."

Satu album telah sampai pada halaman akhir. Pak Nano membuka album kedua. Aku dan Luna tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Kami menunggu Pak Nano melanjutkan ceritanya.

"Ini dia bangunan kost yang ada di belakang. Sampai sebulan pertama, belum ada penghuninya", sambil tersenyum Pak Nano menunjuk sebuah foto dimana dia sedang memotong pita pada pintu masuk bangunan kost. Sepertinya foto ini dibuat pada saat peristiwa selamatan atau semacam peresmian bangunan kost tersebut pertama kali berdiri.

"Lama-kelamaan, calon penghuni kost berdatangan. Akhirnya tempat ini menjadi ramai. Bapak tidak pernah membatasi siapa pun yang ingin kost di sini. Asalkan dia orang baik-baik, pasti Bapak terima, bahkan lama-kelamaan Bapak anggap sebagai anak sendiri."

Kalimat itu diucapkan Pak Nano dengan nada serius, yang sekali-kali diikuti anggukan kepala istrinya.

"Selain akrab dengan Bapak dan Ibu, kami berdua juga tidak melarang mereka untuk akrab dengan anak kami. Salah satunya yang paling akrab adalah Doni. Dia sangat dekat dengan Shinta..."

Kalimat Pak Nano terhenti, nampak ada beban berat untuk melanjutkannya...

"Kami tidak pernah melarang Shinta untuk dekat dengan Doni. Bahkan belakangan ketika kami tahu mereka berpacaran, kami juga mengijinkannya. Hanya saja ada sedikit ganjalan di hati Bapak."

"Apa itu, Pak?", tanpa kusadari kupotong kalimatnya. Aku rasa hal ini adalah bagian terpenting yang bisa menjadi jawaban semua teka-teki.

"Mereka beda agama. Shinta jelas-jelas muslim yang taat, sedangkan Doni anak pendeta. Selain itu mereka juga berbeda ras. Doni warga keturunan, sama seperti Nak Luna. Tapi, sekali lagi, masalah ras bukanlah hal yang terpenting bagi Bapak sekeluarga. Masalah agama yang lebih prinsip. Bapak tidak keberatan jika saja Doni mau menjadi muslim sehingga bisa menjadi imam bagi keluarga jika mereka menikah nanti."

Pak Nano menghela napas panjang. Raut wajahnya menunjukkan beban yang teramat berat untuk melanjutkan kalimatnya. Hingga akhirnya kali ini Bu Nano yang membuka suara.

"Nak Saras, kalau keluarga kami menitikberatkan pada masalah agama sebagai prinsip dan pegangan hidup, lain lagi halnya dengan keluarga Doni. Orangtua Doni keberatan jika Doni berhubungan serius dengan Shinta karena mereka berbeda suku. Jadi pada intinya, hubungan Doni dan Shinta banyak mendapat halangan. Kami selaku orangtua sudah mencoba menasehati dan memberikan pandangan, tapi mereka tetap tidak terpisahkan."

"Lama-kelamaan Bapak bertindak agak tegas. Dengan terang-terangan Bapak katakan pada Doni bahwa Bapak tidak merestui hubungan mereka. Lebih baik mereka putus sekarang daripada buang waktu dan akhirnya patah hati. Setelah itu, memang tidak terlihat lagi kebersamaan mereka di rumah. Tapi ternyata diam-diam mereka sering bertemu di luar."

"Darimana Bapak dan Ibu tahu kalau mereka masih melanjutkan hubungan?", tanya Luna.

"Banyak tetangga melihat mereka jalan berdua di mall. Teman-teman kampus Shinta pun bercerita pada Ibu kalau mereka masih merajut tali kasih. Bukannya mereka jahat karena mengadukan hal itu pada Ibu. Tapi memang Ibu yang menginterogasi mereka. Setelah dapat laporan itu, Ibu lalu menasihati Shinta untuk menjauhi Doni. Bahkan kadang memarahinya pula. Semua Ibu lakukan karena Ibu sayang pada Shinta. Ibu tidak ingin dia patah hati nantinya. Tapi semua nasihat dan amarah tidak didengar. Mereka tidak mau putus."

"Yah, karena tidak tahu harus bagaimana lagi, akhirnya Bapak mengusir Doni dari kost ini!", Pak Nano yang tadinya diam, dengan mengejutkan tiba-tiba bersuara. Nada suaranya datar, tapi tatapan matanya semakin tajam menunjukkan kebencian. Aku sedikit kaget, karena ternyata di balik kelembutan dan keramahannya, Pak Nano bisa menunjukkan amarah juga.

"Bapak tidak mau ambil resiko. Jika memang tidak ada yang mau mengalah, berarti tidak ada jalan keluar. Untung Doni mau mengerti. Tanpa banyak protes, dia segera mengemasi barang. Keesokannya dia pamit untuk pindah. Sejak Doni pergi dari sini, berhari-hari Shinta mengurung diri di kamar. Tidak mau kuliah, tidak mau menemani teman-temannya, tidak mau mandi, tidak juga mau makan. Sepertinya dia benar-benar kecewa pada keputusan Bapak. Sejujurnya berat bagi Bapak sendiri untuk bertindak keras. Doni anak yang baik, dia terlihat tulus mencintai Shinta. Bapak juga sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Tapi Bapak tidak melihat masa depan dalam hubungan mereka. Mumpung mereka masih muda, masih banyak pilihan, lebih baik mereka putus."

Pak Nano menghentikan ceritanya. Dia kembali menyeruput teh hangat dari cangkirnya. Setelah itu dia melanjutkan lagi ceritanya.

"Kira-kira sebulan kemudian Bapak bertemu kawan lama, namanya Pak Imam. Dari pertemuan itu, Bapak mengetahui kalau Pak Imam memiliki anak bujang seumuran Shinta, namanya Rama. Dilihat dari latar belakang keluarga, pendidikan, dan juga agama yang seiman, Bapak ingin sekali menjodohkan Rama dengan Shinta. Pak Imam pun setuju dengan niat Bapak itu. Walaupun usia mereka masih muda dan masih kuliah, tapi Bapak pikir jika mereka bisa dekat, perlahan-lahan Shinta bisa melupakan Doni."

"Semua berjalan lancar... hingga peristiwa itu terjadi..."

Pak Nano terdiam. Mata Bu Nano terlihat berkaca-kaca. Apakah peristiwa yang dimaksud adalah...?

"Mungkin Nak Luna sudah banyak mendengar... mengapa Shinta meninggal? Yaitu jatuh ke dalam sumur belakang?"

"Eh... mmm... mmm...", Luna salah tingkah. Dia pasti tidak siap mendapat pertanyaan mendadak itu.

"Sudahlah Nak Luna, jangan merasa bersalah. Bapak maklum jika Nak Luna sudah mendengarnya. Kampung ini kecil, berita itu sudah meluas kemana-mana. Mungkin Nak Luna sudah mendengar beberapa versi, tapi versi langsung dari Bapak belum, kan?"

Luna hanya menggeleng. Aku terpaku pada alur cerita Pak Nano. Aku tahu Shinta meninggal karena jatuh ke dalam sumur. Tapi kenapa? Kecelakaan? Bunuh diri? Atau... dibunuh?

Seperti menjawab pertanyaanku, Pak Nano melanjutkan ceritanya.

"Peristiwa itu terjadi setahun yang lalu. Tidak diketahui kenapa Shinta jatuh dari sumur. Kami hanya mendengar teriakannya, dan ketika kami menghampirinya, sudah terlambat. Dia sudah ada di dasar sumur dan dalam keadaan tidak bernyawa. Polisi menyimpulkan itu adalah kecelakan. Orang-orang di sini menganggap itu bunuh diri. Tapi Bapak tahu itu adalah pembunuhan!"

* * *


Ruang tamu yang sudah suram jadi semakin suram setelah kalimat terakhir dilontarkan oleh Pak Nano. Angin dingin tiba-tiba berhembus di belakang leherku dan membuat bulu kudukku meremang.

Tanpa sengaja kutatap lagi wajah Shinta pada lukisan di dinding. Entah halusinasi atau bukan, wajah itu menatapku balik dengan penuh kebencian.

Darahku terkesiap. Kupejamkan mata. Lalu kubuka kembali. Wajah kebencian itu telah sirna...

"Pembunuhan?", aku bertanya dengan nada tidak percaya.

"Ya... Bapak yakin, Shinta tidak mati bunuh diri. Dia dididik dengan ajaran agama yang kuat. Dan menurut agama kami, tindakan bunuh diri adalah dosa. Shinta tahu persis hal tersebut. Bapak juga yakin itu bukan kecelakaan. Kenapa dia begitu ceroboh? Dia kan sudah lama tahu ada sumur di situ, bahkan sering cuci baju atau piring kotor dengan air dari sumur itu. Pasti lah ada seseorang yang mendorongnya jatuh hingga tewas!"

"Ta... tapi... ss.. ssiapa, Pak?", Luna bertanya sambil menoleh ke arahku. Nampaknya dia juga sulit mempercayai analisa Pak Nano.

"Siapa lagi kalau bukan Doni?!"

Doni? Sulit bagiku untuk menerima tuduhan begitu saja. Apalagi yang kutahu, walaupun hanya berdasarkan cerita Luna dan penghuni kost sini, Doni sangat mencintai Shinta. Mengapa harus membunuhnya? Hanya karena tidak direstui orangtua?

"Tapi Pak, yang saya tahu, Doni sangat mencintai Shinta. Kenapa dia mau membunuhnya?", Luna mencoba berargumen. Sama sepertiku, pasti dia juga tidak yakin Doni sampai setega itu membunuh Shinta.

"Nak Luna, cinta itu buta dan bisa menggelapkan mata hati dan iman kita. Doni pasti sudah mendengar kabar perjodohan antara Rama dan Shinta. Karena dibakar api cemburu dan tidak rela Shinta dimiliki lelaki lain, Doni memilih untuk membunuhnya."

Ah, aku masih tidak percaya...

"Jika memang demikian, apakah polisi tidak menemukan bukti-bukti yang menguatkan analisa bapak?"

"Mereka sempat menginterogasi Doni. Tapi kemudian dilepas."

"Kenapa?"

"Karena Doni memiliki alibi yang kuat. Dia sedang menengok saudaranya yang sakit ketika peristiwa itu terjadi. Tapi Bapak tidak percaya. Entah mengapa, hati nurani Bapak mengatakan bahwa dialah dalang di balik semua peristiwa itu."

Aku tidak bisa lagi berkata-kata. Untuk saat ini, emosi dan amarah Pak Nano telah menutup alasan yang paling masuk akal sekalipun.

"Nak Luna, kamu bilang Doni sangat mencintai Shinta?"

Luna mengangguk perlahan, dengan suara tertahan dia berkata, "Bahkan katanya mereka telah berjanji sehidup semati."

"Nah, jika demikian, masihkan kalian percaya jika Bapak tunjukkan ini?", Pak Nano menyodorkan sebuah undangan. Undangan berwarna kuning emas yang kulihat tadi.

Kubuka undangan tersebut. Di dalamnya terdapat foto calon pengantin. Yang wanita terlihat cantik dalam balutan gaun pengantin putih bersih. Yang lelaki terlihat gagah dalam kemeja putih terbungkus jas hitam.

Kulihat nama mereka... calon pengantin wanita: ELLEN WIDJAJA... calon pengantin lelaki: DONI GUNAWAN.

Doni... akan menikah... Kulihat tanggal pernikahannya... dua minggu lagi?

Aku tercekat, lidahku kelu...

Pak Nano terlihat letih, namun matanya masih menyiratkan kebencian. Aku agak bergidik memandangnya. Kudengar Bu Nano terisak perlahan. Suasana di ruang tamu itu benar-benar tidak menyenangkan.

Aku melirik ke arah arloji yang melekat di tangan. Sudah jam 9. Waktunya pamit.

Aku pun pamit pulang. Kali ini Pak Nano tidak lagi menahanku.

Berkali-kali Luna memintaku untuk menginap, tapi kutolak. Pengalaman hari ini agak membuatku shock. Aku perlu istirahat. Dan istirahat tenang hanya bisa kudapatkan di kamarku sendiri. Akhirnya Luna berhenti membujukku. Dia menemaniku berjalan hingga ujung gang.

Sepanjang jalan itu kami tidak banyak bicara. Tapi walaupun diam, sebenarnya aku sedang memikirkan satu hal. Wajah Doni dalam kartu undangan masih terbayang-bayang. Kalau diingat-ingat, peristiwa jatuhnya Shinta ke dalam sumur baru setahun yang lalu. Jika memang Doni mencintai Shinta, mengapa begitu mudah dia melupakannya? Kemana janji sehidup-semati yang diucapkan olehnya?

Teka-teki belum terjawab. Aku harus melakukan sesuatu.

"Luna, aku rasa kita harus bertemu Doni!"

Luna kaget mendengar perkataanku.

"Kamu yakin, Saras? Apa nantinya malah tidak semakin terseret dalam kemelut ini? Aku malah berpikir sebaiknya aku pindah saja. Aku takut, Saras!"

"Ya, kamu sebaiknya memang pindah. Tapi sambil mencari tempat baru, aku ingin menyelidiki peristiwa ini. Jadi... aku rasa aku harus bertemu Doni!"

Luna ingin membantah. Tapi setelah melihat ekspresi mukaku, dia tahu kalau aku sedang tidak mau dibantah.

"Emmm... mmmm... Yah, coba nanti aku tanya teman-teman kost. Mungkin mereka bisa membantu."

"Thanks, Lun. Kalau sudah ada berita, kabari aku, ya!"

Di ujung gang akhirnya kami berpisah. Di sana lah kuparkir mobilku. Aku segera masuk ke dalamnya. Kuhidupkan mesin dan melaju perlahan. Kusetel radio, terdengar alunan musik lembut. Di sepanjang perjalanan yang singkat itu aku merenung...

Malangnya Shinta. Jika aku jadi dia, aku pun pasti akan kecewa mengetahui Doni akan menikahi gadis lain. Dan jika Shinta masih hidup, mungkin dia lebih memilih mati.

... tiba-tiba bulu kudukku meremang lagi...

* * *


to be continued...

Monday, October 08, 2007

Cinta Terlarang - Part 2

Misteri Sebuah Sumur

Sudah hampir seminggu Luna tinggal di kost baru. Terakhir kali aku menyambanginya ketika membantunya pindahan. Untung barang-barang Luna tidak terlalu banyak. Hanya dengan dua kali bolak-balik, semua sudah terangkut.

Sejak itu kami berdua disibukkan oleh pekerjaan sehingga hanya sempat bertemu pada saat kuliah malam. Setiap kutanyakan keadaan kost barunya, dengan semangat Luna menceritakan pengalamannya berkenalan dengan satu per satu anggota penghuni kost. Juga mengenai kebaikan keluarga Pak Nano yang sudah menganggap semua penghuni kost adalah anaknya. Kalau memang demikian, kelihatannya semua berlangsung baik dan normal. Kekhawatiranku sebelumnya benar-benar tidak masuk di akal.

Hmmm... mungkin tidak ada salahnya kalau aku mengunjunginya akhir minggu ini. Hitung-hitung menagih trakir karena sudah ikut keluar keringat membantunya pindahan. Hahahaha!

"Kamu tidak ada acara kan Minggu besok? Aku mau datang ke kostmu, nih."

Dua kalimat tersebut kukirimkan melalui SMS ke nomor Luna.

"Benar kamu mau datang? Aku tidak ada acara. Kutunggu, ya!"

Tidak lama kemudian, kudapatkan balasannya. Asyik, artinya hari Minggu besok akan dihabiskan bersama Luna.

* * *


Pada hari Minggu siang yang cerah, aku sampai di depan rumah Pak Nano. Aku disambut oleh sekelompok pemuda yang sama ketika pertama kali aku ke sini. Entah siapa nama mereka, aku lupa berkenalan.

"Permisi, Luna-nya ada?", tanyaku basa-basi.

"Hi, Mbak Saras. Mbak Luna ada tuh di belakang", sambut salah seorang dari mereka. Pemuda yang sama dengan waktu itu. Wah, dia sudah hapal namaku, padahal aku tidak tahu namanya. Daripada salah sebut, lebih baik kujawab dengan anggukan dan senyuman manis saja.

Setelah dipersilahkan masuk, aku langsung melangkahkan kaki ke dalam. Lagi-lagi melalui ruang tamu yang kusam itu. Kali ini tidak terlihat Pak Nano atau pun istrinya.

Sekilas pandang kulirik lukisan yang terpampang di dinding. Namun entah mengapa tatapan ku jadi terpaku... Lukisan itu masih sama... Hanya saja wajah anak perempuan yang ada di dalamnya... menjadi sangat pucat seperti wajah tanpa dialiri darah.

Sumpah, pertama kulihat, tidak seperti itu. Lalu mengapa sekarang lain? Atau hanya perasaanku saja? Bulu kudukku meremang berdiri. Perasaanku tiba-tiba gelisah.

"Mbak Saras", sebuah tepukan dingin menghampiri pundak ku.

"Argh!!", aku melonjak kaget, jantung ini rasanya berhenti berdetak.

"Aduh, maaf... maaf... bukan maksudku membuat Mbak Saras kaget."

Ah ternyata pemuda yang tadi. Kenapa dia mengikutiku ke belakang? Apa urusannya? Aku diam saja tanpa menyembunyikan wajah ketusku karena sudah kesal dikagetkan olehnya. Pemuda itu sepertinya merasa bersalah.

"Eeeengg... anu, Mbak. Sebelumnya kenalkan dulu, namaku Ludi. Aku tadi hanya mau memberitahu Mbak kalau mau ke belakang bisa lewat samping. Soalnya kadang-kadang rumah dikunci, jadi tidak bisa lewat ruang tamu..."

"Oooh...", aku menatapnya dengan perasaan malu karena pastinya pemuda itu, siapa namanya? Ludi?, telah mencuri lihat apa yang telah kulakukan barusan. Menatap nanar pada lukisan dengan pandangan ngeri. Ah, jangan-jangan nanti aku dikira sudah sinting?

"Mari, Mbak, saya antar", tanpa sungkan Ludi mengajakku untuk mengikutinya keluar dari ruangan yang kusam dengan lukisan yang mengerikan.

Walaupun ragu, kupaksakan kepalaku menoleh lagi ke arah lukisan tadi, terutama pada bagian wajah anak perempuan Pak Nano. Wajah anak itu... kembali terlihat seperti pertama kali kulihat. Tidak pucat tanpa darah. Bahkan kali ini aku baru sadar kalau ia ternyata menyunggingkan senyuman yang cukup manis. Ah, aneh sekali...

Dengan perasaan bergidik aku mengayunkan kaki mengikuti langkah Ludi. Lain kali, aku tidak mau masuk ruang tamu ini lagi. Hiiy...

Jalan samping yang dimaksud oleh Ludi adalah jalan setapak menuju kebun dan bangunan kost milik Pak Nano. Ternyata di siang hari areal perkebunan ini terlihat lebih lapang. Banyaknya pohon rindang membuat perkebunan menjadi cukup sejuk. Kulihat ada ayunan kain yang ditambatkan di antara dua pohon rambutan. Juga ada kursi panjang di bawah rimbunnya pohon jambu. Pasti menyenangkan menghabiskan waktu bersama di sini. Malam hari bisa buat api unggun sambil bernyanyi diiringi gitar dan bakar jagung atau ikan. Kira-kira pasti seperti itulah yang sering terjadi di sini, setelah kulihat bekas bakaran api di tengah-tengah kursi dan ayunan tadi.

"Hati-hati, Mbak Saras", tiba-tiba tangan Ludi menunjuk sebuah sumur yang lubangnya telah ditutup oleh papan kayu yang tebal. Sumur tersebut terletak di samping kiri bangunan kost. Di sebelah kanan sumur terdapat 2 buah kamar mandi mungil.

"Oh, apa ini? Sumur bekas?"

"Eh... iya, tapi sudah tidak terpakai", jawab Ludi dengan sedikit gugup.

"Airnya sudah kering ya?", tanyaku asal, hanya mau tahu mengapa sumur itu ditutup.

"Errr... airnya sih masih ada. Ditutup karena takut ada yang jatuh lagi... Lagipula, sekarang sudah ada mesin pompa, tidak perlu capai menimba dari sumur."

"Apa kamu bilang tadi? Jatuh LAGI?", kali ini aku cukup kaget mendengar kata "lagi" dalam kalimatnya sebelumnya.

"Eh... Mbak Luna belum cerita, ya? Ah atau jangan-jangan Mbak Luna belum tahu?”, gumam Ludi tidak jelas.

"Hi Saras!!", teriak Luna yang tiba-tiba muncul di tengah situasi aneh antara aku dan Ludi.

"Ah, itu Mbak Luna. Aku permisi dulu ya, Mbak Saras. Kapan-kapan kita ngobrol lagi", dengan buru-buru Ludi pamit.

Tunggu, aku belum mendapat jawaban atas pertanyaanku tadi. Tapi Ludi sudah balik badan dan melangkah bergegas meninggalkanku dan Luna. Ah, aku merasa seperti baru saja "melepaskan buruan".

Luna mengajakku masuk ke dalam kamarnya. Sekarang kamar itu sudah dipenuhi berbagai perabotan. Luna memang patut diacungi jempol, walaupun banyak barang, kamarnya masih terlihat rapih. Coba bandingkan dengan kamarku. Tak jauh beda dengan kapal pecah. Hahaha!

"Ayo Ras, masuk, duduk dimana pun kamu suka."

Aku masuk dan memilih duduk di atas kasur tanpa ranjang dan menyelonjorkan kaki di lantai.

"Barusan itu yang mengantar kamu namanya Ludi"

"Aku tahu, kok. Dia sudah memperkenalkan diri."

"Oooh... tapi kenapa sepertinya dia buru-buru pergi ketika aku muncul?"

"Hahahaha, mungkin dia takut sama kamu, Luna?"

"Eeeh serius... Ludi itu anaknya baik dan ramah, kami sering ngobrol. Jadi takut padaku bukan alasan yang tepat. Atau mungkin dia takut sama kamu? Kamu kan kadang-kadang galak dan judes, Ras... Hahahaha!"

"Enak saja. Aku hari ini jadi anak manis kok, Lun. Masa baru kenal sudah aku bikin takut? Hihihihi... Tapi... mungkin dia bukan takut denganku, Lun... melainkan takut dengan pertanyaanku!"

"Maksudmu?", Luna menatapku dengan pandangan heran.

Aku ceritakan percakapan singkat mengenai sumur bekas yang telah ditutup yang ada di samping bangunan kost ini. Aku berkesimpulan Ludi langsung meninggalkanku begitu aku tanya soal sumur tersebut. Mungkinkah dia takut atau menghindar dari pertanyaanku yang lebih dalam?

Luna nampak serius mendengar penjelasanku. Tapi mukanya tidak menunjukkan sesuatu yang aneh. Bahkan sepertinya dia punya jawaban atas pertanyaanku.

"Hmmm... kalau itu penyebabnya, pantas saja Ludi buru-buru kabur..."

"Lho, jadi kamu tahu soal sumur itu, Lun?", kali ini gantian aku yang menatapnya heran.

"Yeah... aku pun baru tahu kira-kira dua hari yang lalu, ketika ngobrol dengan anak-anak penghuni kost lainnya di sini..."

"Jadi apa ceritanya?"

"Kata mereka, dulu anak perempuan Pak Nano pernah ditemukan meninggal dalam sumur itu."

Aku tercekat. Anak perempuan Pak Nano? Yang ada di lukisan itu? Belum sempat aku bertanya, Luna kembali meneruskan ceritanya.

"Menurut anak-anak, Shinta, nama anak Pak Nano itu, mati bunuh diri dengan loncat ke dalam sumur..."

Mulutku ternganga...

"Bunuh diri? Karena...?"

"Itulah misteri yang belum terjawab. Sebelum meninggal, Shinta diketahui memiliki hubungan khusus dengan mantan penghuni anak kost sini. Doni, namanya."

"Lalu Shinta bunuh diri karena putus cinta dengan Doni?"

"Tidak jelas. Pak Nano memang menuduh Doni telah membuat Shinta patah hati. Tapi Doni membantahnya, karena walaupun tidak direstui Pak Nano, Doni dan Shinta saling mencintai, tidak pernah ada kata-kata putus cinta dari satu sama lain. Mereka bahagia walau selama ini harus back street. Sayang, Pak Nano tidak mau mendengar penjelasan Doni. Setelah kejadian itu, beliau mengusir Doni dari kost ini."

"Oh, sungguh tragis. Lalu apa sebenarnya alasan Pak Nano tidak merestui hubungan mereka?"

"Masalah klasik, Ras... perbedaan suku dan agama..."

"Hmmm... sekarang baru aku sadar apa arti penampakan dalam lukisan yang baru kulihat..."

"Penampakan? Apa maksudmu, Ras?"

Aku tatap dalam-dalam mata Luna. Ingin rasanya aku bercerita padanya apa yang baru saja kulihat pada lukisan di ruang tamu. Luna memang mengetahui kalau aku memiliki kelebihan dapat berhubungan dengan dunia gaib. Tapi jika dunia tersebut ada di sekitarnya saat ini, apakah nanti tidak malah membuatnya takut?

"Eh... bukan apa-apa... Aku hanya melantur, Luna..."

"Ayolah, Saras. Aku paham betul kalau kamu sudah bilang 'penampakan'."

"Sudahlah, aku sendiri belum yakin saat ini, Lun. Nanti hanya membuat kamu takut saja. Aku janji, kalau sudah yakin, aku akan beritahu kamu, okay?!"

Muka Luna tampak khawatir. Tapi dia juga ragu-ragu untuk mendesakku lebih dalam.

"Ah... kok jadi tegang begini. Kamu sudah makan? Yuk, aku traktir kamu makan siang. Hitung-hitung upah angkut barang-barangku minggu lalu", ide Luna kali ini benar-benar mencairkan suasana.

"Hahahahaha. Dari tadi tawaranmu ini yang sebenarnya kutunggu-tunggu. Ayo, deh...!", langsung kusambut ajakannya. Ditraktir adalah kesempatan yang tidak akan pernah Saras sia-siakan. Hehehe.

* * *


Kami berdua makan siang di suatu restoran Chinese di daerah kampus. Setelah kenyang dengan mie ayam favorite, kami kembali ke kost Luna.

Untuk melupakan cerita tegang sebelumnya dan menghapus kekhawatiran Luna, kali ini aku memilih topik yang agak ringan. Apalagi kalau bukan gosip?

"Luna, ada yang ganteng tidak di kostmu?", candaku memulai obrolan sambil melepas lelah dengan meluruskan kaki. Aku tahu Luna paling tidak peduli dengan urusan cowok. Tapi pastinya dia bisa membedakan mana yang ganteng dan tidak. Hehehe.

"Ah Saras, baru seminggu di sini, mana tahu sih ada yang ganteng atau tidak", jawab Luna seperti yang sudah kuduga sebelumnya. Lunaaa... Luna, dari dulu kamu memang tidak berubah. Paling tidak tertarik sama mahluk bernama "cowok".

"Eh, tapiii... mungkin ada satu yang lumayan...", tanpa kuduga tiba-tiba Luna mengoreksi ucapan sebelumnya. Wah, siapa laki-laki yang dimaksud?

"Siapa namanya, kamu sudah kenal?", tanyaku antusias.

"Sudah, dong. Dia adik kelas kita. Umurnya 2 tahun lebih muda. Orang Medan, namanya... Ucok."

"Ucok? Yang mana sih? Aku sudah pernah lihat?"

"Ingat waktu pertama kali kita kemari? Kan ada salah satu penghuni yang sedang asyik di kamarnya main komputer? Yang disapa oleh Pak Nur itu, lhooo..."

Aku berusaha untuk mengingat-ingat. Oalaaa... ternyata itu yang namanya Ucok?!

"Ohhh, yang itu. Hah? Serius kamu? Yang itu kamu bilang ganteng?"

"Errr... iya...", kali ini Luna memasang tampang kecut. Sepertinya dia baru menyadari kalau penilaiannya SALAH BESAR di mata Saras.

"HAHAHAHAHAHAHA! Model begitu kamu bilang ganteng? Luna... Luna... kamu ini... benar-benar, deh! Sepertinya aku harus menyediakan waktu khusus untuk mengajarimu cara menilai cowok", aku tertawa terpingkal-pingkal. Bukan apa-apa, yang aku ingat, Ucok yang dimaksud Luna adalah cowok kurus kecil, hitam, dan... yah bisa dibilang... tidak menarik. Lalu kenapa Luna bilang dia ganteng? Hihihihihi.

Luna terlihat salah tingkah. Dia mencoba membela pilihannya. Namun tiba-tiba kami mendengar suara langkah mendekat. Ada yang datang. Langkah itu terhenti tepat di depan pintu kamar Luna. Sesosok bayangan menghalangi sinar lampu sehingga ruangan dibuat gelap setengahnya. Ternyata pemilik bayangan tersebut adalah seorang pemuda yang berbadan cukup tinggi.

"Hi, penghuni baru! Sombong benar tidak keluar kamar seharian?", kata pemuda itu sambil menjulurkan kepalanya ke dalam kamar.

Hei siapa dia? Kok baru kali ini kulihat?

"Hi Ariel, masuk. Maaf, bukannya sombong, aku lagi kedatangan tamu nih. Kenalkan temanku, Saras", Luna berdiri dari duduk dan memperkenalkan kami berdua.

"Saras", kataku sambil menjulurkan tangan.

"Ariel", balasnya sambil menyambut uluran tanganku. "Oh, kalian pasti sedang seru. Aku tidak mau ganggu, ah. Luna, aku cuma mau beritahu kalau minggu depan mungkin akan ada acara barbeque lagi. Kamu mau ikut?"

"Boleh. Kamu ikut juga ya, Saras?", Luna menoleh ke arahku.

Sejenak aku ragu-ragu. "Hmmm... aku belum tahu rencanaku minggu depan. Tapi boleh lah", akhirnya aku mengangguk tanda setuju.

"Okay. Sampai nanti, ya!", Ariel segera pamit dan meninggalkan kami berdua kembali.

Setelah memastikan dia telah benar-benar pergi, aku segera mendekat ke arah Luna. Setengah berbisik, kukatakan, "Luna, yang itu baru boleh dibilang... lumayan lah!"

"Hah? Ariel? Masa sih", sahut Luna setengah tidak percaya.

"Daripada yang kamu sebut tadi. Siapa? Ucok? Hahahaha! Setidaknya yang ini jauh lebih bersih. Hihihihi!"

"Ah kamu ini, kalau soal cowok, tahuuuu saja!"

"Siapa dulu dong... SARAS... Jadi, sering-seringlah kamu ngobrol dengan dia, okay?!"

"Hahahaha, aku mana berani membuka pembicaraan lebih dulu?"

"Ah, nanti pasti ada kesempatan. Hihihihi", ujarku sembari melirik jam tangan. Wah, sudah jam 5.30 sore. Aku lihat ke luar, langit sudah mulai gelap. Huff, tanpa terasa obrolan telah memakan waktu setengah harian. Memang kalau sudah gossip dengan Luna bisa lupa waktu.

"Luna, sudah mau Maghrib nih. Aku pulang dulu, ya."

"Kamu tidak mau bermalam saja di sini?"

"Trims. Walau berantakan, aku masih lebih cinta kamarku sendiri kok. Hehehehe... Ya sudah, aku pamit dulu ya. Tapi aku mau numpang ke belakang dulu nih, mau pipis."

"Okay, kamar mandi ada di samping kanan. Mau kuantar?", tanya Luna menawarkan diri.

"Hahaha, memangnya aku anak kecil yang perlu ditemani? Aku bisa ke sana sendiri kok."

Aku berjalan ke luar menuju toilet. Sialnya, toilet berada persis di samping sumur bekas itu. Siang tadi keberadaan sumur tersebut tidak terlalu mengganggu dan tidak terlihat menyeramkan. Sekarang, dengan penerangan seadanya, sumur itu terlihat... sangat menakutkan.

Ah, sudah, jangan pikir macam-macam. Daripada menahan kencing dan ngompol di jalan, lebih baik segera tuntaskan di sini, lalu pulang.

Aku berjalan melewati sumur tersebut. Tanpa pikir panjang, langsung kumasuki kamar mandi yang pintunya terbuka. Kulepaskan hajat buang air kecil. Setelah selesai, aku buru-buru buka pintu kamar mandi.

Ketika kubuka pintu kamar mandi, mataku tertumpu pada sumur itu lagi. Tapi kali ini, walaupun berusaha sekuat hati untuk mengalihkan pandangan, leherku sepertinya kaku dan mataku tidak bisa kupejamkan. Pandanganku tetap mengarah ke atas sumur itu.

Dan perlahan tapi pasti, dari lubang sumur yang tertutup, aku melihat segumpal asap putih. Asap yang semakin lama semakin jelas membentuk bayangan... bayangan seorang anak perempuan. Matanya menatapku penuh kebencian. Bibirnya menyeringai membentuk senyuman yang mengerikan.

"Tolong aku...", begitu pinta suara bayangan perempuan itu dengan lirih. Aneh, matanya yang menyorot tajam tiba-tiba berubah menjadi memelas. Tangannya menjulur ke arahku. Membuatku mundur selangkah.

"Aaa... aa... Ssii... ssiii... siapa kamu?", dengan terbata-bata aku mencoba membalas ucapannya.

"Aku Shinta... Tolong... sampaikan rasa sakit hatiku...", ujar bayangan itu lagi.

Shinta? Shinta siapa? Dengan berpikir keras aku mencoba mengingat-ingat nama itu. Sepersekian detik sekelebat cerita Luna memenuhi isi otakku. Shinta anak Pak Nano? Bukankah dia sudah meninggal? Lalu yang muncul di hadapanku ini adalah... arwahnya? Dengan sisa-sisa keberanian, aku coba membangun komunikasi dengannya.

"Sa... sakit hati dengan siapa, Shinta?", kali ini walau masih tergagap, aku mencoba bersikap tenang. Bukankah sudah ratusan kali aku mengalami hal ini? Sudah bukan hal yang aneh buatku menemui arwah orang mati. Tapi tetap saja, kalau mereka muncul tiba-tiba dengan muka mengerikan seperti itu, aku bisa kaget juga.

"Doni...", sambil berkata demikian, serta merta bayangan tersebut melayang dari sumur menuju arahku. Gerakannya yang cepat seolah-olah hendak menyerangku.

"Arrrrghhhhh!!!!!!!", dengan spontan aku berteriak dan melindungi wajah dengan kedua tanganku. Gayung yang sejak tadi kupegang untuk membersihkan kakiku pun terjatuh ke lantai kamar mandi. Menimbulkan bunyi gaduh yang memekakkan telinga.

Bayangan tersebut menghilang.

Sebagai gantinya, sekelompok orang berlarian dari dalam kost dan rumah Pak Nano menuju kamar mandi. Pasti teriakan histerisku dan jatuhnya gayung telah membuat mereka kaget. Nampak Luna berjalan tergopoh-gopoh menghampiriku.

"Saras... Saras... ada apa? Kudengar tadi kamu teriak!", Luna mengguncang-guncang bahuku.

"A... a... aku...", dengan perasaan masih shock karena baru saja menyangka akan diserang arwah gentayangan, aku mencoba menjelaskan. Tapi lidahku kelu, tatapan mataku horror. Membuat orang-orang di sekitarku ikut-ikutan menjadi ngeri.

"Nak Saras, tadi kenapa teriak? Apa Nak Saras melihat sesuatu?", ganti Pak Nano yang bertanya, setelah melihat perubahan air mukaku yang sudah mulai tenang.

"Aku... aku... baru saja... bertemu anak Bapak, Shinta", dengan nafas agak tertahan akhirnya kuceritakan kejadian mendebarkan yang baru saja kualami.

"Shinta...?", Pak Nano menatapku dengan pandangan tidak percaya.

Semua orang yang ada di situ pun menatapku dengan tatapan mata kaget bercampur tanda tanya. Mungkin hanya Luna yang bisa mempercayai perkataanku saat ini.

Tapi... aku tidak peduli apakah mereka akan percaya atau tidak.

Yang jelas, sekarang aku mau pulang...

* * *


to be continued...

Wednesday, October 03, 2007

Cinta Terlarang - Part 1

Kost Baru Untuk Luna

Pada suatu sore yang cerah, dengan langkah gontai aku berjalan menuju kantin kampus. Setelah capai kena macet di jalanan, akhirnya sampai juga di tempat ini. Kalau bukan karena harus mengikuti mata kuliah malam yang membosankan, mungkin aku memilih langsung pulang ke kost daripada ke kampus. Tapi mata kuliah tadi memang harus tetap diambil... kalau tidak mau menunda kelulusan 1 semester lagi! Huh...!

Setelah memesan makanan, aku memilih tempat duduk yg paling strategis. Strategis maksudnya adalah, bisa melihat cowok-cowok bening dari berbagai sudut. Dasar Saras, biarpun hati sedang tidak mood, mata tetap mencari peluang. Hehehe.

"Saras!", suara dan tepukan hangat di pundak tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

Ah Luna. Bikin kaget saja.

"Ah, kamu, Luna. Baru datang juga?"

"Dari tadi sih. Tapi aku ke toilet dulu. Sudah pesan makanan?"

"Sudah. Soto ayam. Tidak ada lagi yang menggugah selera."

"Memang tidak ada yang enak. Aku tadi pesen nasgor, deh. Habis bingung mau makan apa?!"

"Yaaah, namanya makan asal kenyang..."

Obrolan terhenti karena pesanan masing-masing datang. Entah karena perut lapar atau memang makanannya enak, aku dan Luna cukup lahap menyantap hidangan yang ada di depan mata tanpa berkata-kata.

Tiba-tiba suara Luna memecah keheningan.

"Ras, kaya’nya aku mau cari kost-kostan deh..."

Ugh... hampir aja aku tersedak kuah soto. Luna mau kost?

"Lho kenapa? Bukannya kamu mulai betah tinggal di rumah Om?", tanyaku sambil mengalihkan pandangan dari mangkuk soto ke wajah Luna.

"Hah?! Betah apanya? Kamu kan tahu sendiri, aku tidak bisa akrab dengan mereka. Selama ini aku terpaksa tinggal dengan mereka karena tidak mau buang-buang uang kiriman orang tua untuk kost", balas Luna dengan menampakkan wajah cemberut.

"Hmm... aku sih tahu kamu tidak kerasan. Tapi aku tidak menyangka hal ini sampai membuat kamu mau pindah. Dimana-mana numpang memang tidak enak. Namanya juga gratis. Kalau sekarang kamu mau kost, berarti tidak gratis lagi, lho?!"

"Biarin deh. Aku sudah pikir masak-masak. Kan aku sudah bekerja, aku pikir dengan gaji yg sekarang, aku sanggup bayar uang kost."

"Benar kamu yakin?"

"Yupe... Aku hanya perlu sedikit bantuan dari kamu nihhh", mata Luna melirik dengan bibirnya menunjukkan seringaian penuh makna. Aku jadi merinding dibuatnya. Hehehe.

"Waduh, bantuan apa? Bayarin kost kamu? Waaah, klo itu sih kamu kan tahu aku sama tongpesnya seperti kamu?"

"Hahahaha! Bukan itu, Non. Aku minta bantuan kamu mencari kost yang murah dan nyaman buatku."

"Hufff... kukira apa. Sudah nih, hanya itu saja?"

"Hehehe, iyaaa!"

"Oke deh... kapan kita ada waktu? Sabtu besok?"

"Boleh! Kita ktemu lagi di kampus, ya?!"

"Siip!"

"Haduh... sudah jam masuk nih. Dosennya pake sistem absen di depan lho."

"Huaaa... iyaa.. ayooo kita cepat ke sana!!!"

* * *


Hari Sabtu, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, aku dan Luna bertemu di kampus. Seharian nanti kami akan berkeliling daerah seputar kampus demi menemukan kost idaman Luna.

Namun nampaknya pencarian kost tidak semudah yang dibayangkan. Hingga hari menjelang sore, kami belum menemukan yang cocok. Kalau bukan karena masalah harga yang terlalu mahal, tempatnya yang kurang ideal. Ada yang jauh dari angkot, hingga harus jalan kaki yang jaraknya lumayan membuat kaki pegal. Ada juga yang fasilitasnya kurang lengkap. Atau yang induk semangnya kurang memperhatikan kebersihan.

Rasanya aku sudah mau menyerah sejak dari satu jam pertama pencarian. Namun untuk mengatakan "cukup dulu ya hari ini", aku tidak sampai hati. Apalagi Luna sepertinya benar-benar ingin secepatnya pindah. Hhhhh...

Hingga akhirnya kami sampai di sebuah gang kecil. Sebenarnya aku agak ragu apakah setelah gang tersebut akan ditemukan rumah yang dijadikan kost-kostan? Tapi keraguan tidak akan memberikan jawaban. Lebih baik terus mencari.

Setelah berjalan kira-kira 100 meter, kami menemukan beberapa rumah penduduk yang jaraknya saling berdempetan satu sama lain. Dan pada salah satu rumah tersebut, terdapat sekelompok anak muda yang sedang asyik bernyanyi sambil bermain gitar. Dilihat dari penampilannya, sepertinya mereka pemuda baik-baik dan berpendidikan. Kemungkinan besar anak kuliah dari kampus yang sama dengan kami.

Luna nampak ragu-ragu melewati kelompok anak muda tersebut. Tapi aku justru berpikir lain. Jika banyak anak kuliah di situ, jangan-jangan memang tempat kost? Hmmm, sebaiknya tanya saja!

"Permisi...", aku memberanikan diri menyapa para pemuda tersebut. Tho mereka terlihat seperti pemuda baik-baik.

"Silahkan, Mbak. Ada yang bisa dibantu?", sambut salah satu pemuda yang tampak simpatik.

"Errr... begini... kami sedang cari kost-kostan. Apa di dekat sini ada?"

"Oooh... kebetulan. Tempat ini memang kost-kostan campuran. Mau ngobrol ke dalam dengan yang punya?"

Aha?! Benar kan firasatku?! Luna juga terlihat cukup kaget dengan kenyataan yang baru kami temui.

"Wah, boleh deh", kali ini Luna menyambut dengan antusias.

Pemuda tadi membawa kami berdua masuk ke dalam ruang tamu. Ia mempersilahkan kami duduk lalu memanggil-manggil seseorang yang disebutnya sebagai “Pak Nano”, yang sepertinya adalah pemiliknya.

Sekilas pandang aku melihat ruang tamu tersebut agak kusam. Lantainya terbuat dari keramik dengan corak berwarna abu-abu. Cat dindingnya berwarna krem dan beberapa bagian mulai mengelupas. Eternit atapnya ada beberapa yang bolong. Perabot di dalamnya tidak ada yang baru dan istimewa. Sofa warna merah marun memenuhi sebagian besar isi ruangan. Ada buffet kecil tempat menyangga tivi 21 inch. Di sudut ruangan terdapat lemari kaca berisi pajangan keramik dan foto-foto keluarga. Pada dinding terdapat lukisan keluarga yang cukup besar. Dari lukisan tersebut tergambar sepasang suami-istri didampingi anak, menantu dan cucu. Pastilah mereka adalah Pak Nano sekeluarga. Dan dilihat dari foto-foto kecil dalam lemari kaca, sepertinya anak Pak Nano ada 2 orang, laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki lebih dewasa dan sudah menikah, sedangkan yang perempuan mungkin seumuran denganku.

Karena asyik memperhatikan lukisan dan foto-foto, aku tidak sadar ketika Pak Nano muncul bersama istrinya. Luna mencolek dan menyadarkanku dari pemantauan sekilas ruang tamu tersebut. Kami berdua spontan bangkit berdiri.

Sesuai dengan yang kulihat pada lukisan tadi, Pak Nano kira-kira berumur pertengahan 50-an. Tubuhnya berperawakan sedang dengan kulit sawo matang. Senyumnya ramah dan matanya bersahabat. Istrinya kira-kira berumur awal 50-an. Tubuhnya kecil agak kurus dan kulitnya putih bersih. Dia juga memiliki senyum dan mata yang menyenangkan.

"Pak, ini ada tamu mencari kost", ujar pemuda tadi.

Pak Nano dan istrinya menyambut kami dengan senyuman sambil mengulurkan tangan.

"Mari... mari silahkan duduk, Nak. Bu, tolong buatkan minuman untuk tamu kita."

"Waah, tidak usah merepotkan, kami hanya sebentar saja", kataku hampir berbarengan dengan Luna. Kami jadi merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan.

"Tidak apa-apa, hanya segelas air tidak merepotkan kok, Nak. Kalian pasti capai sudah jalan sampai ke sini," kali ini istri Pak Nano berbicara. Rupanya dengan mudah ia melihat raut wajah kami yang berantakan karena kelelahan.

"Jadi, kalian berdua mau kost?", tanya Pak Nano.

"Oh, hanya saya, Pak. Teman saya tidak", jawab Luna.

"O iya, nama kalian siapa?"

"Saya Luna. Teman saya ini Saras. Apa bapak menerima penghuni kost wanita?"

"Iya, Nak Luna. Kost saya ini campuran yang menerima pria dan wanita. Sebenarnya baru saja dibangun, jadi mungkin fasilitasnya kurang memadai."

"Boleh saya lihat tempatnya, Pak?"

"Boleh, ada di belakang... Mari saya tunjukkan."

Pak Nano beranjak dari duduknya dan meminta kami untuk mengikutinya. Kami dibawa menuju sebuah pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan bagian belakang rumah.

Rupanya di belakang rumah ini terdapat tanah yang cukup lapang. Tanah tersebut sebagian dijadikan kebun dan sisanya dibangun kost-kostan sederhana. Sangat sederhana karena luasnya tidak seberapa dan dinding pembatas antar kamarnya hanya terbuat dari kayu.

Karena suasana sudah cukup sore, aku melihat suasana perkebunan dan kost-kostan itu agak menyeramkan. Apalagi kurang lampu penerangan. Aku ragu apakah Luna mau tinggal di sini?

Ketika aku masuk ke bangunan kost-kostan, aku lihat ada beberapa penghuni di situ. Mereka tersenyum dan menyapa Pak Nano dengan ramah. Hmmm, jarang-jarang aku melihat keramahan di antara sesama pemilik dan penghuni kost di Jakarta. Rata-rata mereka tidak peduli dengan lingkungan sekitar karena sifat individualis yang kental. Keramahan tadi seolah-olah menghapus kesan menyeramkan yang baru saja kurasakan.

Pak Nano membuka satu kamar di pojok dan memperlihatkannya pada Luna, "Ini dia salah satu kamar yang kosong, Nak Luna."

Luna memperhatikan dengan seksama. Matanya berputar menyapu ruangan yang terlihat cukup bersih. Perlengkapan kamar di dalamnya sangat sederhana. Hanya ada satu tempat tidur, satu lemari baju, satu meja dan satu kursi. Dilihat dari ekspresi wajahnya, nampaknya Luna cukup puas.

"Berapa harga sewanya, Pak?"

Hah? Luna langsung bertanya soal harga? Apakah dia benar-benar tertarik? Yah, walaupun sepertinya suasana di sini menyenangkan, entah kenapa aku merasa ada yang kurang beres.

"Oh, soal itu gampang, Nak. Mari kita bicarakan di ruang tamu."

Pak Nano mengajak kami untuk kembali ke ruang tamu. Dan ketika aku membalikkan badan... tiba-tiba aku merasakan bulu kudukku meremang. Hawa dingin merasuk jiwa.

"Brrr... apa kamu merasa dingin, Luna?", tanyaku sambil mendekap badan dengan kedua tangan.

"Dingin? Udara pengap begini kamu bilang dingin? Jangan-jangan kamu sakit, Saras?", Luna menatapku heran bercampur khawatir.

"Masa? Kok tadi aku tiba-tiba kedinginan? Sekilas saja. Sudahlah, jangan khawatir. Ayo kita segera masuk ke dalam", ucapku seadanya demi mengusir kekhawatiran Luna.

Di ruang tamu telah terhidang minuman dan makanan ala kadarnya. Wah, rupanya pemilik kost di sini benar-benar ramah. Bukan hanya ramah dengan para penghuni, tapi juga tamu yang belum tentu jadi penghuni.

Luna segera membuka percakapan mengenai harga. Dan pertama kali Pak Nano buka harga, Luna tersenyum. Ternyata harganya benar-benar sesuai jangkauan. Luna tampak senang sekali. Tanpa ditawar ia langsung menyetujuinya. Bahkan langsung memberikan tanda jadi saat itu juga. Dan kepindahan akan dilakukan keesokan harinya!

Hah? Aku kaget. Walaupun senang juga, karena artinya pencarian hari ini tidak berakhir sia-sia. Tapi kenapa secepat itu? Setidaknya aku merasa ada yang perlu dibicarakan dengan Luna sebelum benar-benar memutuskan memilih kost ini.

Karena, entah kenapa, aku merasa ada yang ganjil. Apakah berhubungan dengan udara dingin yang tiba-tiba menyergap sewaktu di belakang tadi? Tidak tahu juga.

Memang aku tidak melihat apa-apa, tapi biasanya udara dingin merupakan suatu indikasi. Indikasi yang... aku sendiri belum berani menyimpulkannya.

Setelah selesai ngobrol basa-basi demi mengakrabkan diri, akhirnya kami pamit pulang. Sepanjang jalan, aku lebih banyak diam. Aku bingung, seharusnya aku senang, tapi...

"Saras, akhirnya aku menemukan kost yang aku inginkan. Memang sih tempatnya sederhana sekali. Tapi sesuai dengan harganya yang murah. Dan aku merasa pemilik dan penghuninya ramah. Aku pasti akan kerasan!"

"Errr.. iya... semoga kamu kerasan", aku merespond celoteh Luna seadanya.

"Kamu kenapa sih, kok tidak terdengar antusias? Menurutmu bagaimana tempat kost tadi?"

Aduh, aku bingung harus jawab apa. Di satu sisi, aku merasa kurang sreg. Di sisi lain, alasannya tidak masuk akal. Yah, mungkin kali ini hanya perasaanku saja.

"Oh... tidak apa-apa. Aku bukannya tidak antusias, hanya kaget saja bisa secepat itu kamu pindah. Hehehe. Menurutku kost tadi cukup menyenangkan. Keluarga Pak Nano mungkin bisa jadi pengganti keluargamu yang jauh, Lun."

"Ya, kamu benar. Semoga saja mereka sebaik yang kita duga, ya..."

Ya... semoga saja... bathinku...

* * *


to be continued...